Showing posts with label mathematic. Show all posts
Showing posts with label mathematic. Show all posts
Tuesday, 3 January 2017

Belajar Berfikir

Definisi dari berpikir adalah suatu keterampilan yang berguna bagi manusia untuk meraih pengetahuan sebanyak- banyaknya. Keterampilan berpikir dapat diajarkan disekolah melalui cara-cara langsung dan sistematis, dapat diselenggarakan pada semua bidang studi disekolah dan dapat pula diselenggarakan pada program tersendiri.

Pembelajaran tentang berpikir dapat dilakukan melalui bidang ilmu yang diajarkan. Kemampuan-kemampuan kognitif yang sangat mendasar, yang dimiliki siswa dapat diintegrasikan dengan pengajaran keahlian-keahlian berpikir tertentu secara langsung. Kegiatan decoding dalam membaca memerlukan analisis, membandingkan, membuat analogi-analogi, membuat terkaan-terkaan, sintesa, dan evaluasi, sehingga pengajaran tentang berpikir secara langsung diajarkan pada penguasaan kemampuan kognitif sebagai bagian dari program membaca (decoding). (Mulyadiharja & Ganesha, 2012)
Proses berpikir dikelompokan menjadi empat yaitu pemecahan masalah, pengambilan keputusan, berpikir kritis dan berpikir kreatif. Hal ini sejalan dengan literatur tentang berfikir tingkat tinggi. Berikut empat uraian mengenai proses berfikir :

Pemecahan Masalah
pemecahan masalah merupaka suatu proses berfikir yang didahului mencari informas mengenai suatu peristiwa untuk memperoleh infosrmasi yang relevan,kemudian informasi tersbut dikelola sehingga menghasilkan keputusan untuk menyelasaikan suatu peristiwa yang diluar dari harapan. Hal ini sejalan dengan pendapat para pakar berikut :
menurut Hamalik (1994), Problem solving adalah suatu proses mental dan intelektual dalam menemukan masalah berdasarkan data dan informasi yang akurat, sehingga dapat diambil keputusanyang tepat dan cermat
Pendapat lain problem solving adalah suatu pendekatan dimana lagkah – langkah berikutnya sampai penyelesaian akhir lebih bersifat kuantitatif ( Qrustian Blogs Friendster.c0m).
ini berarati orentasi pembelajaran problem solving merupakan infestigasi dan penemuan yang pada dasarnya pemecahan masalah. Selanjutnya problem solving merupakan taraf yang harus dipecahkan dengan cara memahami sejumlah pengetahuan dan keterampilan dan merupakan hasil yang dicapai individu setelah individu yang bersangkutan mengalami suatu proses belajar yang diajarkan suatu pengetahuan tertentu.

Berfikir Kritis
Proses berfikir selanjutnya adalah berfikir kritis. Berfikir keritis merupakan suatu proses sebelum pengambilan keputusan. Informasi yang didapat dipertimbangkan sedemikian sehingga keputusan yang diambil tepat.
Hal ini sejalan dengan pendapat para ahli. Secara umum berpikir kritis adalah penentuan secara hati-hati dan sengaja apakah menerima, menolak atau menunda keputusan tentang suatu klaim/pernyataan (Moore dan Parker, 1988:4). Atau dapat juga dikatakan berpikir kritis adalah suatu proses yang bertujuan untuk membuat keputusan-keputusan yang masuk akal tentang apa yang dipercayai atau apa yang dilakukan (Ennis, 1996: xvii). Kemampuan berpikir kritis sangat penting, karena dalam kehidupan sehari-hari cara seseorang mengarahkan hidupnya bergantung pada pernyataan yang dipercayainya, pernyataan yang diterimanya. Selanjutnya secara lebih berhati-hati mengevaluasi suatu pernyataan, kemudian membagi isu-isu yang ada apakah relevan atau tidak dengan pernyataan yang dievaluasi. Ketika seseorang mempertimbangkan suatu pernyataan dia telah mempunyai sejumlah informasi tertentu yang relevan dengan pernyataan tersebut dan secara umum dapat menggambarkan di mana mendapatkan informasi yang lebih banyak jika diperlukan (Haryani, 2012)

Pengambilan Keputusan
Manusia terlibat dengan banyak hal dalam kehidupan sehari-harinya, dari yang sederhana hingga yang kompleks. manusia akan dihadapkan dengan banyaknya pilihan-pilihan. Pengambilan keputusan merupakan bagian dari hidup manusia dalam menghadapi berbagai masalah untuk pemenuhan kebutuhan hidup, sehingga setiap manusia memerlukan pengambilan keputusan yang tepat. Pengambilan keputusan menjadi suatu hal yang biasa dilakukan karena setiap individu menghadapi berbagai permasalahan untuk dapat mempertahankan hidupnya.
Dua bagian yang menghubungkan antara pengambilan keputusan adalah kematangan emosi dan self-efficacy sehingga ada dua faktor yang apat mempengaruhi seseorang dalam mengambil keutusan. Yaitu faktor dari dalam dan faktor dari luar.
Menurut Noorderhaven (1995: 46), faktor-faktor dalam diri individu yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan antara lain adalah kematangan emosi, kepribadian, intuisi, dan umur. Bandura dan Jourden (1991: 24) berpendapat bahwa pengambilan keputusan dapat dipermudah atau dihambat oleh adanya self- efficacy.

Berfikir Kreatif
Berpikir kreatif merupakan kegiatan mental yang menghasilkan sesuatu yang baru hasil dari pengembangan. Hal ini sesuai dengan pendapat Coleman dan Hammen (Sukmadinata,2004a) bahwa ”Berpikir kreatif adalah suatu kegiatan mental untuk meningkatkan kemurnian (originality) dan ketajaman pemahaman (insight) dalam mengembangkan sesuatu (generating)”. Kemampuan berpikir kreatif berkenaan dengan kemampuan menghasilkan atau mengembangkan sesuatu yang baru, yaitu sesuatu yang tidak biasa yang berbeda dari ide-ide yang dihasilkan kebanyakan orang.


Terdapat empat tahap dalam berpikir kreatif, yaitu; (1) Exploring, mengidentifikasi hal-hal apa saja yang ingin dilakukan dalam kondisi yang ada pada saat ini; (2) Inventing, melihat atau mereview berbagai alat, teknik, dan metode yang telah dimiliki yang mungkin dapat membantu dalam menghilangkan cara berpikir yang tradisional; (3) Choosing, mengidentifikasi dan memilih ide-ide yang paling mungkin untuk dilaksanakan; (4) Implementing, bagaimana membuat suatu ide dapat diimplementasikan (Istianah, 2013)

Empat proses berfikir ini menjadi satu kesatuan untuk dapat menghadapi suatu peristiwa yang diluar harapan. Proses berfikir ini membentuk suatu siklus dalam menyelesaikan permasalahannya. Ketika permasalahan belum terselesaikn makan proses akan berulang dari awal, menyempurnakan informasi, menimbang informasi dengan kembali, sehingga didapat penyelesaiannya.

Tulisan ini diambil dari beberapa sumber, bisa dicek di daftar pustaka berikut. Semoga bermanfaat
Daftar pustaka

Bandura, Albert. 1986. Self-Efficacy (Efikasi Diri). Multiply.
Haryani, D. (2012). P – 17 membentuk siswa berpikir kritis melalui pembelajaran matematika, (November), 978–979.
Istianah, E. (2013). MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN KREATIF MATEMATIK DENGAN PENDEKATAN MODEL ELICITING ACTIVITIES (MEAs) PADA SISWA SMA. Infinity, 2(1), 43–54.
Mulyadiharja, S., & Ganesha, U. P. (2012). PENGEMBANGAN MODEL ASESMEN AUTENTIK PEMBELAJARAN IPA KONTEKSTUAL TERINTEGRASI DENGAN MODEL PENGAJARAN, 1(1), 1–12. Retrieved from https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=20&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwiKtNT9tpjRAhVMOY8KHeKxBMw4ChAWCGAwCQ&url=http%3A%2F%2Fejournal.undiksha.ac.id%2Findex.php%2FJPI%2Farticle%2Fdownload%2F4482%2F3455&usg=AFQjCNEn1KEGivu9CnKp3mZ-yXI
 Moore, B.N & Parker, R. 1986. Critical Thinking Evaluating and Arguments in Everyday Life. California State University. California: Mayfield Publishing Company.http://www.utc.edu/walker-center-teaching-learning/teaching resources/ct-ps.php
Sukmadinata, N.S. (2004). Kurikulum dan Pembelajaran Kompetensi. Bandung: Yayasan Kesuma Karya.(a)





Saturday, 31 December 2016

Epistemologi Pemahaman Matematika Masyarakat Baduy

Epistimologi Pemahaman Matematika Masyarakat Baduy
Hasan Sufi
Program Studi Matematika Pascasarjana Universitas Sultan Ageng Tirtayasa 2016

Abstrak
Indonesia is an archipelago that has a wide range of cultural as well as many cultures that are typical of each region from Sabang to marauke. Indonesia has so many different tribes in accordance with the existing culture of his ancestors since until now. One of them is the culture of the tribes in Banten. Tribes that have not been affected by the modern culture and still comply with the rules of his tribe who would not accept the new culture that is from the Bedouin tribe. Baduy tribe is a group of people who are living in rural Banten where they usually calls himself as the man Kenakes. Tribe in the village of Kenakes, Leuwidar, Lebak, Banten is indeed not an isolated tribe, but a tribe that was deliberately alienating itself from external life. Formally Baduy community does not recognize the institution of school, but for the understanding of mathematics to everyday life dominate society. Peneltin aims to find out the epistemological understanding of mathematics Baduy. The method used is literature. The results showed that the understanding of the mathematical community Baduy obtained from local knowledge possessed by meaningful learning methods.


Abstrak
Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki berbagai macam budaya serta banyak kebudayaan yang khas dari masing-masing daerah dari sabang hingga marauke. Indonesia memiliki banyak sekali suku-suku yang berbeda sesuai dengan kultur yang sudah ada dari sejak nenek moyangnya hingga sekarang. Salah satunya adalah kebudayaan dari suku yang ada di Banten. Suku yang belum terpengaruh dengan adanya budaya modern dan masih mematuhi aturan sukunya yang tidak mau menerima kebudayaan baru tersebut yaitu dari suku Baduy. Suku Baduy merupakan sekelompok masyarakat yang memang tinggal di pedalaman Banten yang mana mereka biasanya menyebut dirinya itu sebagai orang Kenakes. Suku yang berada di Desa Kenakes, Leuwidar, Lebak, Banten ini memang bukan suku yang terasing, tetapi suatu suku yang memang sengaja mengasingkan dirinya dari kehidupan luar. Secara formal masyarakat baduy tidak mengenal lembaga sekolah, namun untuk pemahaman matematika untuk kehidupan sehari-hari masyarakat menguasai. Peneltin ini bertujuan untuk mengetahui secara epistimologis pemahaman matematika masyarakat Baduy. Metode yang digunakan adalah studi pustaka. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemahaman matematika masyarakat baduy didapat dari kearifan lokal yang dimiliki dengan metode belajar bermakna.

contact my email , if you want to get full paper
Sunday, 25 December 2016

how to DEVELOPMENT INSTRUMENTS OF OBSERVATION

In a study would require observation instrument to produce accurate data. We describe four inner steps to make the instrument observation. The fourth part is the planning, implementation techniques, reference instruments, and Giving feedback. Here we describe the key points:
Technical Guidelines for the Assessment Planning Observation

  • Determine the attitude of competence to be assessed,
  • Determining the components of attitude is to be assessed, whether related cognitive, affective or conative,
  • Develop the attitude display indicator according to its competence to be measured,
  • Planning the assessment time (during the learning process or at the end of the lesson),
  • Selecting appropriate valuation techniques with the attitude indicator to be measured (eg: a diary, checklists, anecdotal records),
  • Draw up an assessment rubric attitude that shows the key criteria in the form of performance indicators,
  • Technical planning a recording of attitude whether in the form of a check list, description or qualifications (good, moderate, less) than to see the attitude of learners,
  •  Develop observation sheet to record to see the attitude of learners,
  • Organize tasks if required. Tasks are used to display the attitude of learners that can be planned and or conditioned to be displayed by learners.


Technical Guidelines for Assessment With Observations
• Delivering competence attitudes need to be accomplished learners,
• Deliver criteria and indicators of achievement attitude to learners.
• Conduct observations on display attitudes of learners during learning in the classroom or during attitude displayed,
• Menemu ndikator on outcomes assessment rubric that shows the attitude of learners,
• keep records to see the attitude of learners,
• Comparing to see the attitude of learners with the assessment rubric,
• Determine the level of achievement of learners attitude.

A reference instrument, the assessment by observation
• Measuring aspects of attitude (not cognitive or psychomotor) required core competencies and basic competencies,
• in accordance with the competence to be measured,
• load the attitude or the attitude indicator can be observed,
• easy or feasible to use,
• be able to record the attitudes of learners.

Technical Guidelines for Giving Feedback Observations
• Feedback is given to students based on the results of observation,
• Delivered with clear language
• Feedback is delivered orally through a conference or in writing and be constructive,

• Feedback motivate learners to improve his attitude.