Showing posts with label matematika. Show all posts
Showing posts with label matematika. Show all posts
Saturday, 31 December 2016

Epistemologi Pemahaman Matematika Masyarakat Baduy

Epistimologi Pemahaman Matematika Masyarakat Baduy
Hasan Sufi
Program Studi Matematika Pascasarjana Universitas Sultan Ageng Tirtayasa 2016

Abstrak
Indonesia is an archipelago that has a wide range of cultural as well as many cultures that are typical of each region from Sabang to marauke. Indonesia has so many different tribes in accordance with the existing culture of his ancestors since until now. One of them is the culture of the tribes in Banten. Tribes that have not been affected by the modern culture and still comply with the rules of his tribe who would not accept the new culture that is from the Bedouin tribe. Baduy tribe is a group of people who are living in rural Banten where they usually calls himself as the man Kenakes. Tribe in the village of Kenakes, Leuwidar, Lebak, Banten is indeed not an isolated tribe, but a tribe that was deliberately alienating itself from external life. Formally Baduy community does not recognize the institution of school, but for the understanding of mathematics to everyday life dominate society. Peneltin aims to find out the epistemological understanding of mathematics Baduy. The method used is literature. The results showed that the understanding of the mathematical community Baduy obtained from local knowledge possessed by meaningful learning methods.


Abstrak
Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki berbagai macam budaya serta banyak kebudayaan yang khas dari masing-masing daerah dari sabang hingga marauke. Indonesia memiliki banyak sekali suku-suku yang berbeda sesuai dengan kultur yang sudah ada dari sejak nenek moyangnya hingga sekarang. Salah satunya adalah kebudayaan dari suku yang ada di Banten. Suku yang belum terpengaruh dengan adanya budaya modern dan masih mematuhi aturan sukunya yang tidak mau menerima kebudayaan baru tersebut yaitu dari suku Baduy. Suku Baduy merupakan sekelompok masyarakat yang memang tinggal di pedalaman Banten yang mana mereka biasanya menyebut dirinya itu sebagai orang Kenakes. Suku yang berada di Desa Kenakes, Leuwidar, Lebak, Banten ini memang bukan suku yang terasing, tetapi suatu suku yang memang sengaja mengasingkan dirinya dari kehidupan luar. Secara formal masyarakat baduy tidak mengenal lembaga sekolah, namun untuk pemahaman matematika untuk kehidupan sehari-hari masyarakat menguasai. Peneltin ini bertujuan untuk mengetahui secara epistimologis pemahaman matematika masyarakat Baduy. Metode yang digunakan adalah studi pustaka. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemahaman matematika masyarakat baduy didapat dari kearifan lokal yang dimiliki dengan metode belajar bermakna.

contact my email , if you want to get full paper
Friday, 16 December 2016

TEKNIK PENGEMBANGAN INTRUMEN OBSERVASI

 Dalam penelitian tentu membutuhkan intrumen observasi untuk menghasilkan data yang akurat. Kami akan paparkan 4 bagian dalam langkah-langkah membuat instrumen observasi. 4 bagian tersebut adalah merencanakan, Teknik pelaksanaan, Acuan instrumen, dan Pemberian umpan balik. Berikut kami jabarkan poin-poin pentingnya :

Petunjuk  Teknis  Perencanaan Penilaian dengan Observasi

  1. Menentukan kompetensi sikap yang akan dinilai,
  2. Menentukan komponen  sikap  yang akan dinilai, apakah  terkait  kognitif,  afektif  atau   konatif,
  3. Menyusun  indikator  tampilan  sikap  sesuai kompetensi yang akan diukur,
  4. Merencanakan  waktu  penilaian (selama proses pembelajaran atau di akhir pembelajaran),
  5. memilih  teknik  penilaian  yang  sesuai dengan indikator  sikap yang akan diukur  (misalnya:  catatan  harian,  daftar  cek,  catatan anekdot),
  6. menyusun  rubrik penilaian sikap berupa kriteria kunci yang menunjukkan capaian indikator,
  7. Merencanakan   teknis  pencatatan sikap apakah  dalam  bentuk  check list, deskripsi ataupun kualifikasi  (baik,  sedang,  kurang) dari tampilan sikap peserta didik,
  8. Menyusun lembar observasi untuk mencatat tampilan sikap peserta didik,
  9. Menyusun tugas jika diperlukan. Tugas digunakan untuk tampilan sikap peserta didik yang dapat direncanakan dan atau dikondisikan untuk dapat ditampilkan oleh peserta didik.



Petunjuk Teknis Pelaksanaan Penilaian Dengan Observasi 
          Menyampaikan kompetensi sikap yang  perlu dicapai peserta didik,
          Menyampaikan kriteria penilaian dan indikator capaian sikap kepada peserta didik.
          Melakukan pengamatan  terhadap tampilan sikap peserta didik selama pembelajaran di dalam kelas atau selama  sikap ditampilkan,
         Menemu ndikator pada rubrik penilaian yang menunjukkan capaian sikap peserta didik,
          melakukan  pencatatan terhadap tampilan sikap peserta didik,
          Membandingkan  tampilan sikap peserta didik dengan rubrik penilaian,
          Menentukan  tingkat capaian sikap peserta didik.

Acuan instrumen penilaian sikap dengan observasi
          Mengukur aspek sikap (bukan  aspek  kognitif atau psikomotor) yang dituntut kompetensi inti dan kompetensi dasar,
          sesuai  dengan  kompetensi yang akan diukur,
          memuat  sikap  atau  indikator  sikap  yang dapat  diobservasi,
          mudah atau feasible untuk digunakan,
          dapat merekam  sikap peserta didik.

Petunjuk  Teknis  Pemberian Umpan Balik Hasil Observasi
          Umpan  balik  yang  disampaikan kepada peserta didik berdasarkan hasil observasi,
          Disampaikan  dengan  bahasa  yang jelas
          Umpan  balik  disampaikan  secara  lisan melalui konferensi atau secara tertulis dan bersifat konstruktif,
          Umpan balik  memotivasi  peserta  didik untuk meningkatkan sikapnya.


Draft Kajian Inovasi
Hasan Sufi

Peningkatan Kompetensi Guru Melalui Program Guru Pembelajar Moda Dalam Jaringan (Daring)

A. Latar Belakang
Sejatinya, guru adalah bagian integral dari organisasi pendidikan di sekolah secara menyeluruh. Agar sebuah organisasi termasuk organisasi pendidikan di sekolah mampu menghadapi perubahan dan ketidakpastian yang menjadi ciri kehidupan modern, Peter Senge (2000) mengingatkan perlunya mengembangkan sekolah sebagai sebuah organisasi pembelajar. Di antara karakter utama organisasi pembelajar adalah senantiasa mencermati perubahan internal dan eksternal yang diikuti dengan upaya penyesuaian diri dalam rangka mempertahankan eksistensinya.

sebagai bentuk aktualisasi tugas guru sebagai tenaga profesional, maka pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional sebagaimana diamanatkan oleh Undang Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru 2 dan Dosen dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan akan menfasilitasi guru untuk dapat mengembangkan keprofesiannya secara berkelanjutan. Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) ini diarahkan untuk dapat memperkecil jarak antara pengetahuan, keterampilan, kompetensi sosial dan kepribadian yang mereka miliki sekarang dengan apa yang menjadi tuntutan ke depan berkaitan dengan profesinya itu.

Guru Pembelajar
Untuk merealisasikan amanah undang-undang sebagaimana dimaksud, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melaksanakan Program Peningkatan Kompetensi Guru Pembelajar bagi semua guru, baik yang sudah bersertifikat maupun belum bersertifikat. Untuk melaksanakan program tersebut, pemetaan kompetensi telah dilakukan melalui Uji Kompetensi Guru (UKG) di seluruh Indonesia sehingga dapat diketahui kondisi objektif guru saat ini dan kebutuhan peningkatan kompetensinya. Data guru peserta UKG tahun 2015 sebagaimana tercantum dalam tabel berikut.


Tabel 1. 1 Data Guru Peserta UKG tahun 2015

Sumber Data : UKG 2015 Ditjen GTK
Hasil UKG pada tahun 2015 menunjukkan nilai rata-rata nasional yang dicapai adalah 56,69, meningkat dibandingkan nilai rata-rata nasional dari tahun-tahun sebelumnya yaitu 47, dan sudah melampui target capaian nilai rata-rata nasional tahun 2015 yang ditetapkan dalam renstra Kemdikbud yaitu sebesar 55. Walaupun demikian, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, khususnya Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) berusaha lebih keras agar dapat mengejar target yang ditetapkan pada tahun 2016 yaitu 65. Untuk itu Ditjen GTK mengembangkan program berdasarkan hasil UKG 2015 yang disebut dengan Program Peningkatan Kompetensi Guru Pembelajar.

Program Peningkatan Kompetensi Guru Pembelajar adalah upaya peningkatan kompetensi guru yang melibatkan Pemerintah serta partisipasi publik yang meliputi pemerintah daerah, asosiasi profesi, perguruan tinggi, dunia usaha dan dunia industri, organisasi kemasyarakatan, serta orangtua siswa. Bentuk pelibatan publik dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti memberikan dukungan bagi terselenggaranya Program Peningkatan Kompetensi Guru Pembelajar, baik dalam moda tatap muka, dalam jaringan (daring), maupun daring kombinasi.

Moda Daring
Moda Dalam Jaringan (Daring) adalah program guru pembelajar yang dilaksanakan dengan memanfaatkan teknologi jaringan komputer dan internet. Moda Daring dapat dilaksanakan dengan mempersiapkan sistem pembelajaran yang secara mandiri memberikan instruksi dan layanan pembelajaran kepada peserta tanpa melibatkan secara langsung para pengampu dalam proses penyelenggaraannya. Sistem instruksional yang dimaksud meliputi proses registrasi, pelaksanaan pembelajaran, tes akhir, dan penentuan kelulusan peserta serta penerbitan sertifikat. Dalam hal tertentu, keterlibatan pengampu masih diperlukan, misalnya dalam memeriksa dan menilai tugas-tugas yang belum bisa dilaksanakan oleh sistem, atau untuk membantu peserta apabila mengalami kesulitan yang belum mampu diatasi oleh sistem. Moda Daring diperuntukkan bagi guru yang memerlukan peningkatan kompetensi dengan mempelajari 3-5 modul.

Melalui moda ini, peserta memiliki keleluasaan waktu belajar. Peserta dapat belajar kapanpun dan dimanapun, sehingga tidak perlu meninggalkan kewajibannya sebagai guru dalam mendidik. Peserta dapat berinteraksi dengan pengampu/mentor secara synchronous – interaksi belajar pada waktu yang bersamaan seperti dengan menggunakan video call, telepon atau live chat, maupun asynchronous – interaksi belajar pada waktu yang tidak bersamaan melalui kegiatan pembelajaran yang telah disediakan secara elektronik dengan menggunakan forum atau message. Dalam pelaksanaan moda daring, dikembangkan dua model sebagai berikut.
Dalam pelaksanaan moda daring, dikembangkan dua model sebagai berikut

a. Model 1
Pembelajaran Guru Pembelajar pada model ini hanya melibatkan pengampu dan guru sebagai peserta. Dengan memanfaatkan TIK, peserta secara penuh melakukan pembelajaran daring dengan mengakses dan mempelajari bahan ajar, mengerjakan lembar kerja, berdiskusi serta berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman dengan peserta Guru Pembelajar lainnya. Selama proses pembelajaran, peserta difasilitasi secara daring penuh oleh pengampu, seperti pada Gambar 2.1.
Gambar 2. 1. Model pembimbingan Guru Pembelajar moda daring - Model 1

b. Model 2
Pembelajaran pada Guru Pembelajar moda daring – Model 2 melibatkan peserta, mentor dan pengampu. Guru Pembelajar moda daring model ini dilakukan secara daring penuh dengan menggabungkan interaksi antara peserta, mentor dan atau pengampu, dengan model pembimbingan seperti
 Interaksi Pengampu – Mentor: Pengampu mendampingi mentor dan berinteraksi dengan mentor secara daring.
 Interaksi Mentor – Peserta: Mentor mendampingi, berdiskusi dan berkoordinasi dengan peserta secara daring.
 Interaksi Pengampu – Peserta: Pengampu memfasilitasi dan berkomunikasi dengan peserta secara daring.
Gambar 2. 2. Model pembimbingan Guru Pembelajar moda daring - Model 2

2. Guru Pembelajar Moda Daring Kombinasi
Pada moda kombinasi ini, peserta melakukan interaksi belajar secara daring dan tatap muka. Interaksi belajar daring dilakukan secara mandiri dengan memanfaatkan teknologi informasi dan pembelajaran yang telah disiapkan secara elektronik, dan dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja. Interaksi tatap muka dilaksanakan bersamaan dengan peserta lainnya di pusat belajar (PB) yang telah ditetapkan (dijelaskan di Bab II pada sub bab D) dan difasilitasi oleh seorang mentor. Interaksi pada daring kombinasi dapat dilihat pada Gambar 2.3.
 Interaksi Pengampu – Mentor: Pengampu memfasilitasi mentor dan berinteraksi dengan mentor secara daring.
 Interaksi Mentor – Peserta: Mentor mendampingi, berdiskusi dan berkoordinasi dengan peserta secara daring dan luring.
 Interaksi Pengampu – Peserta: Pengampu memfasilitasi dan berkomunikasi dengan peserta secara daring.
Pertemuan tatap muka dilaksanakan sesuai jadwal yang disepakati bersama antara peserta dan mentor.

Gambar 2. 3. Model pembimbingan Guru Pembelajar moda daring kombinasi